Pages

Monday, January 24, 2011

Terapi Enam Gelas Air

Prof. S Periasamy DIM & D ACC - Bohiraj Vedante Maharish Charity, Kantha Health And Research, Centre Karur 639006, TN India

Tuhan telah memberi kita air yang banyak dan gratis. Tanpa mengeluarkan uang untuk obat-obatan, tablet, suntikan, diagnosa, upah dokter, dan lain sebagainya. Hanya minum air minum, penyakit di bawah ini bisa disembuhkan. Anda tak akan percaya sebelum melakukannya. Di bawah ini daftar penyakit yang dapat disembuhkan oleh terapi ini :
  1. Sakit Kepala
  2. Asma
  3. Hosthortobics
  4. Darah Tinggi
  5. Bronchitis
  6. Kencing Manis
  7. Kurang Darah
  8. TBC
  9. Penyakit Mata
  10. Rematik
  11. Radang Otak
  12. Pendarahan di Mata
  13. Batu Ginjal
  14. Mata Merah
  15. Kegemukan
  16. Penyakit Saluran Kencing
  17. Haid tidak teratur
  18. Radang / Sakit persendian
  19. Kelebihan Asam Urat
  20. L e u k i m i a
  21. Radang Selaput Lendir
  22. M e n c r e t
  23. Kanker Peranakan
  24. Gangguan Jantung
  25. Disentri
  26. Kanker Payudara
  27. Mabuk, Pusing, Gamang
  28. Ambeien
  29. Radang Tenggorokan
  30. Batuk
  31. Sembelit

Bagaimana Air Minum itu bekerja?

Meminum air minum biasa dengan metode yang benar, memurnikan tubuh manusia. Hal itu membuat usus besar bekerja dengan lebih efektif dengan cara membentuk darah baru, dalam istilah medis dikenal sebagai aematopaises. Bahwa mucousal fold pada usus besar dan usus kecil diaktifkan oleh metode ini, merupakan fakta yang tak terbantah, seperti teori yang menyatakan bahwa darah segar baru diproduksi oleh mucousal fold ini.

Bila usus bersih, maka gizi makanan yang dimakan beberapa kali dalam sehari akan diserap dan dengan kerja mucousal fold, gizi makanan itu diubah menjadi darah baru. Darah merupakan hal penting dalam menyembuhkan penyakit dan memelihara kesehatan, dan karena itu air hendaknya dikonsumsi dengan teratur.

Bagaimana melakukan terapi ini ?
  1. Pagi hari ketika anda baru bangun tidur ( bahkan tanpa gosok gigi terlebih dahulu) minumlah 1.5 liter air, yaitu 5 sampai 6 gelas. Lebih baik airnya ditakar dahulu sebanyak 1.5 liter. Ketahuilah bahwa nenek moyang kami menamakan terapi ini sebagai "usha paana chikitsa". Setelah itu anda boleh mencuci muka.
  2. Hal sangat penting untuk diketahui bahwa jangan minum atau makan apapun satu jam sebelum dan sesudah minum 1.5 liter air ini.
  3. Juga telah diteliti dengan seksama bahwa tidak boleh minum minuman beralkohol pada malam sebelumnya
  4. Bila perlu, gunakanlah air rebus atau air yang sudah disaring.

Apakah Mungkin Minum 1.5 Liter Air Sekaligus?

Untuk permulaan, mungkin akan terasa sulit meminum 1.5 liter air sekaligus, tapi lambat laun akan terbiasa juga. Mula-mula, ketika latihan, anda boleh minum 4 gelas dulu dan sisanya yang 2 gelas diminum dua menit kemudian. Awalnya anda akan buang air kecil 2 sampai 3 kali dalam satu jam, tetapi setelah beberapa lama, akan normal kembali. Menurut penelitian dan pengalaman, penyakit-penyakit berikut diketahui dapat disembuhkan dengan terapi ini dalam waktu seperti tertulis di bawah ini:
@ Sembelit - 1 Hari
@ TBC Paru-Paru - 3 Bulan
@ Kencing Manis - 7 Hari
@ Asam Urat - 2 Hari
@ Tekanan Darah - 4 Minggu
@ Kanker - 4 Minggu

Catatan :
Disarankan agar penderita radang/ sakit persendian dan rematik melaksakan terapi ini tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam satu jam sebelum makan - selama satu minggu, setelah itu dua kali sehari sampai penyakitnya sembuh.
Kami mohon dengan sangat, metoda diatas dibaca dan dipraktekkan dengan seksama. Sebar luaskanlah pesan ini kepada teman-teman, sanak saudara, dan tetangga - karena ini merupakan persembahan pada kemanusiaan. Dengan rahmat Tuhan, setiap orang hendaknya menjalani hidup sehat.

Monday, January 17, 2011

Riwayat Singkat Filzah Tyas Malinda

MASA LAHIRAN & ANAK-ANAK

         
Penulis dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1995 di Rumah Sakit Bumi Waras Bandarlampung. Penulis dilahirkan dengan berat 4,7 kg dan panjang 41 cm. Penulis begitu bersyukur telah dilahirkan di dunia, memiliki Ayah bernama Suhenda Arsol dan Ibu yang bernama Panca Ambar Wulandari. Penulis begitu disayangi dan kehadirannya benar-benar dihargai sebagai putri sulung dari kedua orangtua dan cucu ke empat di keluarga besar.
          Sebagai anak yang baru dilahirkan, penulis begitu senang ketika melihat saudara-saudara yang datang mengunjunginya di rumah nenek yang selama 15 tahun menjadi tempat tinggal penulis di Jl. Yudistira No. 32, Kampung Sawah.
          Seiring berjalannya waktu, penulis tumbuh besar dan sehat. Saat perayaan ulangtahunnya yang ke dua, untuk pertama kalinya penulis mendapatkan perayaan ulangtahun dari orangtua dan keluarganya. Ibu membuatkan kue black forest dan merrayakan ulangtahun dengan acara tiup lilin. Penulis sangat senang karena mendapatkan banyak kado dan keluarganya berkumpul untuk dirinya.
          Semasa belum sekolah, penulis menghabiskan waktu bermain di rumah dengan sepupu-sepupunya yang sudah sekolah. Terkadang penulis bermain sendiri ketika sepupu-sepupunya pergi ke sekolah atau sedang sibuk dengan tugas-tugas dari sekolah.
          Pada tanggal 8 Juni 1998, untuk pertama kalinya penulis mendapatkan adik yang bernama Tasha Amanda Fajrina. Penulis mendapatkan teman baru untuk menghabiskan waktu. Dia selalu bermain dengan adiknya sampai saat sebelum dia disekolahkan.

 Masa Taman Kanak-Kanak


          Pada tahun 1999, orangtua penulis memutuskan untuk menyekolahkannya ke Taman Kanak-Kanak. Orangtua penulis mendaftarkan penulis untuk masuk ke TK Al-Kautsar dengan harapan di sekolah tersebut penulis juga mendapatkan pendidikan tentang agama.
          Hari pertama masuk sekolah, penulis melihat lingkungan yang baru baginya. Awalnya ia merasa takut karena belum mengenal siapapun di sekolah barunya. Tetapi ibu si penulis menitipkannya kepada seorang guru yang menjadi guru pembibing di kelas penulis selama setahun dan guru tersebut sangat baik dengan penulis sehingga penulis dapat menikmati hari-harinya di sekolah barunya.
          Di sekolah barunya, penulis banyak mendapatkan teman baru dan selalu bersemangat untuk pergi ke sekolah. Sehingga ibu si penulis tidak perlu mengantarkan sampai ke pintu gerbang seokolah karena penulis sudah berani untuk ke sekolah seorang diri. Pada akhirnya, ibu si penulis memanggil abudemen untuk mengantar jemput penulis.
          Penulis sangat menikmati hari-harinya di masa TK. Pada masa itu, penulis menghabiskan waktunya dengan bernyanyi, belajar, dan tertawa bersama teman-temannya. Setiap hari Rabu, sekolah membagikan makan siang, sehingga tidak perlu untuk si penulis membawa bekal dari rumah. Makanan yang dibagikan dari sekolah sangat enak dan penulis dapat makan bersama teman-teman sekelasnya dan belajar mandiri.
          Pada hari kelulusan TK, para murid menampilkan tari-tarian daerah. Saat itu penulis menampilkan Tarian Payung dari Sumatera Barat. Tarian itu merupakan tarian berpasangan, tetapi penulis terpilih menjadi penari pria. Sempat merasa malu, tetapi setelah penampilan itu selesai, penulis merasa senang karena mendapatkan piala sebagai murid teladan.



MASA SEKOLAH DASAR


          Setelah lulus dari Taman Kanak-Kanak, tepatnya pada tahun 2001, penulis melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Dasar. Orangtuanya juga masih memilih Yayasan Al-Kautsar untuk menjadi tempat penulis menimba ilmu.
          Penulis berpikir bahwa SD sama saja dengan TK. Tetapi ketika dia merasakan suasana belajar di Sekolah Dasar, ia mulai mengerti bahwa hari-harinya menjadi jauh berbeda, tidak lagi menghabiskan waktu dengan bernyanyi maupun menggambar. Penulis menghabiskan waktu dengan belajar menulis tulisan sambung saat belajar di Kelas IB. Sepulang sekolah ia tidak lagi punya banyak waktu untuk bermain dengan saudaranya, melainkan menghabiskan waktu dengan mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan guru.
Tetapi penulis dapat beradaptasi dengan baik dan selalu mendapatkan peringkat sepuluh besar di kelas. Di sekolahnya semasa SD pula ia mendapatkan bnyak teman baru dari berbagai Taman Kanak-Kanak yang ada. Pada tahun 2002, saat penulis duduk di kelas 2 SD, adik kedua penulis lahir. Adiknya yang bernama Idzni Nurul Shadrina lahir pada tanggal 5 Juni. Sejak adik keduanya lahir, penulis selalu merayakan ulangtahun bersama dengan ibu dan saudara-saudaranya karena tanggal lahir yang berdekatan.
 Ia pun merasa bahwa hari-harinya semasa SD tidak terlalu membosankan karena dia masih bisa bermain dengan teman-temannya yang sampai kelas 4 tidak pernah berubah dan penulis dapat menjadi sangat akrab dengan teman-temannya. Tetapi pada waktu penulis duduk di kelas 5 SD, diadakan shuffle kelas, sehingga penulis tidak lagi dapat bersama teman-teman yang selama 4 tahun belajar bersamanya. Tetapi hal ini menjadikan penulis makin giat belajar dan ingin selalu diakui dan diingat oleh guru.
Pada saat kelas 6 SD, penulis duduk di kelas VIH. Di kelas ini penulis mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian kelulusan. Kelas VIH adalah kelas yang paling berkesan bagi penulis. Dia mendapatkan guru yang benar-benar bisa membuat ia semangat belajar. Penulis juga medapatkan banyak saingan yang hebat untuk mempertahankan peringkat.
Setiap pagi ketika kelas 6 SD, murid diwajibkan membaca Al Qur’an dan enam surat yang sudah ditentukan. Sehingga murid dapat menghafal surat-surat di Al Qur’an dengan mudah. Ketika ada murid yang datang terlambat, murid-murid tersebut tidak diperbolehkan untuk masuk kelas sebelum murid-murid lain selesai membaca Al Qur’an. Setelah itu, guru selalu memberikan Try Out tentang materi yang di hari sebelumnya baru dibahas sehingga guru dapat mengetahui apakah murid menguasai materi atau tidak.



Guru menjanjikan akan memberikan hadiah kepada murid-murid yang selama setahun tidak mendapatkan nilai di bawah standar yang telah ditentukan. Murid pun terpacu untuk belajar karenanya. Selain Try Out setiap pagi, sebelum pulang sekolah guru membuat kuis. Kuis dilakukan per grup dan satu grup merupakan satu barisan tempat duduk. Untuk yang mendapat skor paling kecil di akhir kuis, mendapatkan hukuman untuk mengangkat bangku ke atas meja sebelum pulang.
Mendekati ujian kelulusan, murid makin giat belajar. Seminggu sebelum ujian, kelas VIH mengadakan Yasinan bersama di kelas dan merupakan acara perpisahan dengan teman-teman  sekelas. Di akhir acara Yasinan, murid VIH menangis, kebersamaan begitu terasa saat itu. Mereka merasa senang karena pernah saling kenal dan sedih karena akan berpisah. Alhasil, murid kelas VIH dapat lulus dan melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama.


MASA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA


          Penulis melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama setelah lulus dari Sekolah Dasar pada tahun 2007. Orangtua penulis memang sudah sejak lama menginginkan penulis melanjutkan pendidikan ke SMP negeri karena dianggap akan lebih menjamin ke SMA maupun universitas untuk ke depannya. Lalu diputuskan untuk memilih tiga sekolah yang diinginkan. Penulis memilih SMPN 2 Bandarlampung, SMPN 4 Bandarlampung, dan SMP Al Kautsar sebagai sekolah pilihan.
          SMP Al Kautsar membuka pendaftaran terlebih dahulu, penulis mengikuti tes, dan diterima di kelas utama pada urutan 16. Setelah itu, penulis mendaftar di SMPN 2 Bandarlampung yang mempunyai program RSBI untuk tahun pertama, sehingga pendaftaran dibuka lebih awal. Setelah melalui berbagai macam tes dan bertemu dengan banyak anak pintar yang sudah biasa memenangkan olimpiade, penulis lulus tes akhir di urutan 52 dari 60 murid yang diterima. Karena SMPN 2 Bandarlampung menjadi tujuan sekolah utama, telah dipustkan sekolah inilah yang akan menjadi temapt penulis untuk menimba ilmu selama 3 tahun.
          Saat duduk di kelas 7, penulis duduk di kelas VII RSBI II. Wali kelas dari kelas ini adalah seorang guru fisika bernama Agus Budi Utomo. Di kelas ini penulis banyak menemui teman baru yang karakternya berbeda-beda. Penulis sempat merasa minder karena dia hanya mengenal beberapa anak yang memang berasal dari SD yang sama dengannya. Tetapi murid-murid yang lain sudah saling mengenal karena banyak dari mereka berasal dari SD yang sama. Lama kelamaan penulis dapat berinteraksi dengan baik dengan teman-teman barunya. Mereka sangat kompak.
          Peraturan di SMP jauh lebih ketat dibanding peraturan di SD. Sistem hukuman kadang diterapkan ketika murid tidak mematuhi peraturan. Selain itu, kegiatan di SMP juga menjadi lebih padat. Penulis kesulitan ketika ada pelajaran olahraga. Penulis tidak ahli dalamp pelajaran ini, hal ini dipersulit dengan guru yang cara mengajarnya agak keras dan disiplin.
          Ketika kelas 8, penulis duduk di kelas VIII RSBI II dengan wali kelas yang sama. Hanya saja diadakan shuffle untuk murid. Sehingga perlu sedikit adaptasi pula di kelas 8. namu begitu penulis sudah terbiasa dengan kondisi sekolah dan karakter guru yang mengajar.
Sebagai murid RSBI angkatan pertama, mereka terkadang mengikuti tes yang diadakan Depdiknas untuk menguji kesiapan sekolah dalam mendapatkan gelar SBI. Walaupun hasil yang didapat kurang memuaskan, tetapi gelar sekolah penulis tidak terlalu buruk di wilayah Sumatera.
         

Menjelang pertengahan bulan Mei 2010, sekolah mulai melaksanakan program intensif pada Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) untunk mempermatang pemahaman siswa pada materi dalam mempersiapkan Ujian Nasional. Ketika Ujian Nasional datang, banyak murid yang merasa tidak percaya diri untuk menghadapinya. Namun mereka saling mendukung dan hasilnya nilai mereka memuaskan.
          Setelah Ujian Nasional berakhir, diadakan pengumuman kelulusan di sekolah, seluruh murid tampak tidak sabar untuk mengetahui hasil keseluruhan nilai mereka dan berapa persen tingkat kelulusan di sekolah. Setelah pengumuman, akhirnya didapati bahwa seluruh siswa SMPN 2 Bandarlampung Tahun Ajaran 2009/2010 lulus 100%
          Akhirnya seluruh murid mendapatkan kebebasan sejenak sebelum tes masuk SMA dimulai.



MASA SEKOLAH MENENGAH ATAS


Penulis dan teman-temannya berjanji untuk bersama-sama mendaftar di SMAN 2 Bandarlampung. Keperluan berkas sudah diurus dan dikirim ke sekolah tersebut. Mereka belajar bersama untuk menghadapi tahapan tes yang akan dilangsungkan. Tidak terlalu lama setelah itu, keluarlah pengumuman hasil seleksi berkas yang mereka kirim. Hasilnya adalah mereka semua lolos seleksi berkas.
Setelah itu diadakan tes potensi akademik dan wawancara Bahasa Inggris. Kedua hasil tes akan diumumkan sebagai hasil akhir diterima atau tidaknya mereka di SMA itu.
Sekitar dua minggu penulis menunggu pengumuman dari SMAN 2 Bandarlampung. Pengumuman dicetak di koran harian Radar Lampung, waktu itu hari minggu. Berdasarkan pengumuman itu, penulis berhasil diterima sebagai murid di SMAN 2 Bandarlampung. Banyak pula teman-teman penulis semasa SMP yang turut diterima di sekolah yang sama.
Setelah mengurus kepentingan-kepentingan yang dibutuhkan ketika masuk sekolah, sekolah mengadakan Masa Orientasi Siswa (MOS) sebelum memulai KBM yang sesungguhnya di sekolah. Kegiatan MOS diadakan selama tiga hari. Tetapi sebelumnya diadakan Kegiatan pra MOS selama tiga hari.
Pada hari pertama kegiatan pra MOS dimulai, diadakan upacara pembukaan Kegiatan pra MOS oleh Kepala Sekolah SMAN 2 Bandarlampung. Upacara berlangsung cukup lama. Seusai upacara, pihak sekolah mengumumkan kelas masing-masing kelompok. Kelompok-kelompok untuk Kegiatan pra dan MOS sebelumnya telah dibagi berdasarkan urutan diterima sebagai siswa/siswi di SMAN 2 Bandarlampung. Penulis masuk dalam kelompok Foxglove.
Dalam kelompok tersebut, penulis bertemu dengan anggota kelompok lain yang berasal dari berbagai sekolah yang terdapat di Bandarlampung maupun dari kota selain Bandarlampung. Setiap kelompok diawasi oleh empat senior yang merupakan anggota OSIS atau PK SMAN 2 Bandarlampung. Kelompok Foxglove diawasi oleh Kak Nahal, Kak Didi, Kak Gadis, dan Kak Balqis.
Pada Kegiatan pra dan MOS, siswa/siswi baru dilatih baris-berbaris. Banyak yang mengeluh dengan kegiatan ini karena paling menguras tenaga. Setelah latihan baris-berbaris, ada teori tentang pengenalan sekolah yang diberikan oleh guru sekalian pengenalan lebih jauh terhadap sekolah.
Peserta diwajibkan untuk mengumpulkan tanda tangan senior OSIS PK yang menjadi penanggungjawab. Selain itu peserta juga diwajibkan memakai topi kerucut sesuai dengan warna kelompok yang telah ditentukan, menggantungkan papan nama di leher, dan tas yang terbuat dari karung beras.



Saat hari terakhir kegiatan MOS, diadakan long march ke Tempat Wisata Lembah Hijau. Medan yang ditempuh sangat sulit karena banyak turunan dan tanjakan. Tetapi peserta begitu semangat untuk mencapai lokasi. Sesampainya di tempat yang telah ditentukan, diadakan berbagai macam lomba seperti lomba yel-yel kelompok dan tarik tambang.
Di akhir acara, diumumkan pemenang tiap perlombaan. Kelompok Foxglove tidak memenangkan satu lomba pun. Tetapi mereka senang karena memulai kegiatan di sekolah dengan hal yang menyenangkan. Setelah itu diadakan upacara penutupan Kegiatan MOS dan di kemudian hari, keseharian sebagai murid SMA dimulai.